AMERIKA Serikat sering disebut tanah impian. Amerika bukanlah negeri yang dibangun sehari jadi seperti kita melihatnya sekarang—dengan takjub pada kemajuannya, demokrasinya, juga pada pilihan rakyatnya mengangkat seorang kulit hitam, suku bangsa bekas budak, jadi pemimpin negeri.
Amerika Serikat adalah tanah impian. Di sini, semua orang dari beragam latar belakang, status sosial, suku, agama, ras yang berlaianan mengadu nasib mewujudkan mimpinya jadi nyata. Dulu, saat masih jadi koloni Inggris, Amerika adalah wajan tempat bermacam orang berkumpul. Mengutip esai Agus R. Sardjono di majalah Horison (edisi XLIV/3/2010), Amerika adalah tempat gebalau campur-baur bermacam manusia dari bermacam tempat dan meja judi.
Mereka, kata Sardjono, adalah “Para bangsawan kecil yang terlibat utang, pecinta yang patah hati, orang-orang yang bankrut bin rudin di meja judi, para petani pekerja keras yang tak punya tanah, buruh yang diperas dan hendak mengejar mimpi, para penjahat yang terdesak, sepasang remaja yang melarikan diri dari keluarga demi cinta mereka, seniman berbakat yang mencari inspirasi, orang mulia yang difitnah dan terusir dari negerinya, mereka segera membereskan ransel dan naik ke kapal menuju tanah baru, peluang baru, impian baru, Amerika.”
Amerika tanah impian. Bukan tanah yang dijanjikan Tuhan pada hamba-Nya yang taat. Karena itu, Amerika bukanlah surga, di mana setiap hal tinggal minta lalu ada. Sebagai tanah impian, Amerika tak pernah menjanjikan setiap orang langsung kaya raya begitu menjejakkan kaki. Yang namanya impian harus diwujudkan. Ia tak datang sendiri, tapi harus dengan kerja keras, keringat, air mata, bahkan nyawa jadi taruhan.
Dari sini orang Amerika lantas menggantungkan harapan pada apa yang mereka sebut American Dream, impian Amerika. Mimpi jadi sukses, kaya raya, hidup enak, yang hanya bisa terwujud dengan kerja dan bekerja lebih keras.
www.tabloidbintang.com/film/resensi/2592...dream-benar-ada.html